Mendidik Generasi Islam Yang cerdas, Pintar dan Taat Beragama

Selamat Datang, Welcome, Marhaban di Sekolah MTs AL-Fatah Hidayatullah Tarakan

Selasa, 19 Desember 2017

Lomba cerdas cermat untuk galang kompetisi yang positif.

Menurut Deaux, Dane, & Wrightsman (1993), kompetisi adalah aktivitas mencapai tujuan dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok. Individu atau kelompok memilih untuk bekerja sama atau berkompetisi tergantung dari struktur reward dalam suatu situasi.
Menurut Chaplin (1999), kompetisi adalah saling mengatasi dan berjuang antara dua individu, atau antara beberapa kelompok untuk memperebutkan objek yang sama.

Sedangkan dalam dunia biologi Kompetisi dapat di artikan sebagai persaingan antara dua organisme atau lebih untuk mendapatkan kebutuhan hidup mereka. Berdasarkan kebutuhan tersebut kompetisi dibagi menjadi:
(1) Kompetisi teritorial yaitu kompetisi untuk memperebutkan wilayah atau teritori tempat tinggal organisme, hal ini berkaitan dengan kompetisi selanjutnya.
(2) Kompetisi makanan yaitu kompetisi untuk memperebutkan mangsa atau makanan dari wilayah-wilayah buruan.

Kompetisi juga dapat dibagi menjadi:
(1) kompetisi internal adalah kompetisi pada organisme dalam satu spesies dan
(2) kompetisi eksternal adalah kompetisi pada organisme yang berbeda spesiesnya. Kompetisi dapat berakibat positif atau negatif bagi salah satu pihak organisme atau bahkan berakibat negatif bagi keduanya. Kompetisi tidak selalu salah dan diperlukan dalam ekosistem, untuk menunjang daya dukung lingkungan dengan mengurangi ledakan populasi hewan yang berkompetisi.

Jika kita bicara tentang kompetisi tentu disekolah pun kita perlu melakukan kompetisi-kompetisi tertentu dengan tujuan yang beraneka ragam. Dengan tujuan yang beragam tersebut tentu jenis kompetisi yang dilakukan menjadi beragam pula. Tapi kali ini kita tidak akan membahas hal tersebut. Kita akan fokus membahas manfaat kompetisi itu sendiri bagi para siswa.

Jika di era kurikulum KTSP dan era kurikulum 2013 titik tekan dunia pendidikan fokus pada pendidikan karakter beserta penilaiannya. Saya berharap ada era dimana kurikulum fokus pada kompetisi sekolah seperti era kejayaan pak Harto. Pada faktanya banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil dari kompetisi sekolah, seperti dibawah ini.

Meningkatkan motivasi belajar
Bagi sobat-sobat yang merasakan era pak Harto tentu merasakan era dimana hampir setiap sore selalu ada acara lomba cerdas cermat di TVRI. Dan Hal ini menjadi trend ketika itu yang di ikuti hampir seluruh sekolah di indonesia. Trend lomba cermat inipun tak hanya booming di sekolah-sekolah tetapi juga booming bagi anak-anak SD di pojok-pojok area kampung.  Meraka bermain ala ala cerdas cermat menguji kemampuan mereka dengan teman sebayanya. Secara tidak langsung trend tersebut ternyata mendongkrak motivasi belajar siswa. Sehingga pada saat itu buku RPUL (Rangkuman pengetahuan umum) dan buku RPAL (Rangkuman pengetahuan alam) selalu menjadi pegangan saat ingin bermain di pojok kampung. Artinya jelas bahwa Kompetisi-kompetisi sekolah memang senjata ampuh untuk meningkatkan motivasi belajar.

Membangun learning community
Melalui berbagai kompetisi beregu secara otomatis learning communiy menjadi terbentuk. Tanpa harus dipaksa-paksa untuk disuruh belajar bersama a, mereka pasti belajar secara berkelompok. Belum lagi dorongan untuk mencapai kemenangan akan mendorong anggota lainnya untuk mengajari teman se regu lainnya dan inilah yang disebut learning community.

Membangun daya saing
Kualitas hanya bisa terbentuk dengan adanya daya saing. Berbagai kompetisi yang dilakukan di sekolah yang sejatinya adalah persaingan tentu akan membentuk kualitas. Dan inilah yang memang kita harapkan.

Membangun sportivitas
Siap menang berarti juga harus siap kalah, kekalahan dalam kompetisi  ternyata bisa membangun spotivitas pada invidu.  Sportivitas tak bisa diajarkan hanya lewat teori-teori saja. Dan untuk mengajarkan sportivitas saya rasa satu-satu nya jalan adalah memberikan mereka kesempatan untuk merasakan ikut dalam dinamika kompetisi.

Long term memory
Pernah dengar teori long term memory (bahasa kasarnya ngelotok di otak) ???yaitu teori ingatan jangka panjang. Seorang siswa akan mengingat pelajaran dalam cakupan long term memori hanya jika mereka merasakan pengalaman yang bermakna. Apakah belajar didalam kelas dengan metode itu-itu saja bisa membentuk pengalaman bermakna???saya rasa tidak. Berdasarkan beberapa penelitian, pengalaman bermakna yang mereka dapat justru kebanyakan berasal dari aktivitas organisasi ektrakurikuler yang mereka ikuti. Seperti berkemah, hiking, LDK dan sebagainya. Sedangkan sebagian lagi menyatakan mereka masih mengingat tentang aneka lomba dan prestasi, yang mereka dapatkan disaat mereka masih kecil.
Artinya jelas bahwa pengalaman bermakna bisa didapat dari berbagai aktivitas yang memang melibatkan aktivitas fisik dan dinamika emosional yang mereka rasakan, dan salah satu aktivitas tersebut adalah kompetisi sekolah.
Share:

Pentingnya pendidikan spiritual di sekolah

Dengan mencermati kehidupan saat ini, dengan tingkat kriminalitas yang semakin meningkat baik kualitas maupun kuantitas, gaya hidup konsumerisme dan hedonisme, sikap hidup ingin serba instan, meterialisme, dan lain-lain. Jika kecenderungan kehidupan seperti tersebut dibiarkan maka tidak mustahil cepat-lambat bangsa ini akan jauh tertinggal bahkan jatuh ke jurang kehancuran, … tentunya kita akan merasa prihatin.
Kehidupan kita saat ini adalah cerminan dari kondisi sebelumnya atau masa lalu. Dan kehidupan saat ini akan mewarnai kondisi kehidupan di masa depan. Pendidikan dan pembudayaan merupakan hal yang sangat penting dalam proses pemaknaan dan pewarnaan kehidupan manusia, baik pribadi maupun kelompok.
Keadaan kehidupan kita saat ini merupakan cerminan dari proses pendidikan yang dijalankan sebelumnya. Kita bisa melihat bagaimana bangsa-bangsa yang maju pada saat ini, mereka telah menginvestasikan pendidikan yang bermutu sebelumnya.
Penyelenggaraan pendidikan tidak bisa main-main, sambilan atau setengah hati, karena pendidikan seorang atau suatu bangsa akan sangat berperan bagi kemajuan kehidupan di masa yang akan datang. Saat ini kita masih belum puas dengan sistem dan model pendidikan ,yang tengah berjalan , yang dinilai masih parsial, apa adanya, belum maksimal, belum mampu menjawab tantangan jaman dan belum mampu membentuk esensi pendidikan, yaitu membangun dan membentuk peserta didik yang berkarakter unggul serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan spiritual.
Pendidikan kita saat ini hanya sibuk dengan pengembangan otak sebelah kiri, parisal, dan hanya melahirkan pribadi yang terpecah (split personality). Sejatinya pendidikan harus mampu membangun sumber daya insani yang utuh (holistik), terpadu (integrated), mampu mengembangkan dengan seimbang seluruh potensi yang dimiliki antara potensi akal, emosi, badan, dan rohani. Hasil pendidikan menunjukkan dari sekian potensi yang ada, potensi spiritual merupakan dasar dan inti kehidupan manusia. Seorang filosof bernama Tierde Cardin menyebutkan bahwa manusia bukanlah makhluk dunia yang mengalami kehidupan akhirat (spiritual). Namun manusia adalah makhluk spiritual yang mengalami kehidupan dunia. Ungkapan ini mengandung makna yang sangat dalam dan menarik untuk dicermati, bahwa dimensi spiritual pada manusia sangatlah penting (urgen) untuk diperhatikan.
Pendidikan berbasis spiritual
Kehidupan di dunia ini bukanlah tujuan tetapi hanyalah sementara, dan akan terus maju menuju alam keabadian alam akhirat. Konsep dan gagasan seperti itu penting untuk dipahamkan kepada siswa sehingga mampu memahami dan memaknai kehidupan dengan benar. Untuk itu , teori dan praktis pendidikan yang saat ini dijalankan harus berbasis dan berorientasi nilai-nilai spiritual. Dengan tidak menafikan perjuangan kehidupan di dunia ini, pendidikan berbasis spiritual merupakan ruh atau jiwanya dari keseluruhan proses pendidikan dan kehidupan siswa.
Pendidikan berbasis spiritual harus mampu menyentuh sisi paling dalam peserta didik yaitu hati atau qolbunya, sehingga peserta didik tahu dan sadar bahwa dirinya diciptakan Allah, lahir ke dunia dengan tugas ibadah, mampu hidup bersyukur, menyayangi sesama manusia dan makhluk lainnya karena Allah semata, taat dan rajin beribadah, peduli pada sesama, hormat pada orangtua maupun guru. Jika nilai-nilai spiritual tertanam di dalam lubuk sanubari para siswa, niscaya kehidupan anak akan senantiasa diwarnai dengan sikap positif, proaktif, produktif, progressif, partisipatif ,dan last but not least , memiliki sikap rendah hati , tawadhu serta taqwa .
Tahapan pendidikan spiritual
Untuk membangun model pendidikan dan pembelajaran berbasis spiritual, tahap-tahap yang harus diikuti meliputi :
  1. Pemaknaan pada tahap ini peserta didik sesuai dengan tingkat perkembangan usianya, harus mengetahui dan memahami tentang makna (arti) belajar dan pendidikan, mengapa belajar itu penting, untuk apa dan karena siapa. Pada tahap ini peran nilai-nilai karena tujuan pendidikan harus sejalan dan sejalin dengan tujuan hidup umat manusia. Anak harus paham bahwa sekolah atau pendidikan harus dimaknai dan niat ibadah kepada Sang Maha pencipta, Allah SWT.
  2. Membangun dan menanamkan motivasi yang kuat yang bersumber dari nilai-nilai spiritual tadi. Bahwa niatnya ibadah, tujuannya ridha Allah orientasinya pahala akhirat.
  3. Membangun sikap positif. Sikap dalam belajar dan hidup merupakan hal yang sangat penting. Sikap positif, optimisme, penuh syukur, sabar, tawakal niscaya akan membentuk pribadi atau karakter yang unggul, pantang menyerah.
  4. Mengembangkan kemampuan (skill), keterampilan dan hidup, baik yang bersifat umum atau khusus sangatlah penting. Setiap anak harus mampu memahami segala fenomena kehidupan dengan kecakapan yang dimilikinya, kecakapan berfikir, komunikasi, menggali informasi, hidup bersama dengan yang lain dan sebagainya.
  5. Membangun wawasan/ pengetahuan. Dengan semakin bertambah usia, bertambah pula wawasan dan pengetahuannya, sehingga semakin dalam pula pengenalan dan kecintaannya terhadap Sang Pencipta. Melalui pengatahuan yang terus berkembang diharapkan anak semakin paham dan sadar tentang fenomena kehidupan.
  6. Pembiasaan, pembudayaan atau latihan. Manusia adalah apa yang sering dilakukannya secara berulang-ulang. Pembiasaan atau pembudayaan sangatlah penting bagi manusia atau belajar. Hal-hal yang benar, baik, dan bagus harus dibiasakan dan dibudayakan sehingga lambat laun menjadi kepribadian atau karakter. Dalam agama yang namanya peribadahan dilaksanakan berulang-ulang – dibiasakan. Menurut Stephen R. Covey dalam bukunya “Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif”, manusia dapat meraih keberhasilan dalam hidup dengan memiliki dan terus mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang efektif atau bagus.
  7. Prestasi atau performance. Hasil positif akan mendorong motivasi dan prestasi baru. Untuk meraih prestasi optimal peserta didik harus berawal dari pemaknaan yang benar. …
Dengan diterapkannya konsep spiritualisasi pendidikan atau pembelajaran. Integritas antara iman dan ilmu, akal dan agama, hati dan pikiran adalah salah satu model agar pendidikan secara efektif mampu membangun pribadi yang utuh. Integrasi ilmu pengetahuan, tekonologi (IPTEK) dan iman, taqwa (IMTAQ), adalah hal yang mutlak dan mendesak untuk diterapkan pada saat ini.
Melalui keterpaduan antara IPTEK dan IMTAQ diharapkan mampu melahirkan para remaja disamping pintar juga berkarakter, disamping sukses juga shaleh. Bagaimanakah memadukan antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan fisik (PQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).
Spiritualisasi pendidikan akan efektif jika seluruh pengampu berkepentingan pendidikan (stakeholders) sadar, yakin dan bekerjasama untuk memajukan model pendidikan yang utuh (holistik) dan terintegrasi. Pendidikan adalah proses yang sistemik, tidak mungkin keberhasilan pendidikan diraih maksimal, tanpa kerjasama dan keterlibatan semua pihak.
Membangun etika dan moral pelajar kita saat ini, merupakan hal yang sangat mendesak serta urgen dilaksanakan, jika tidak segera, maka bangsa Indonesia harus membayar harga sosial yang sangat mahal, berupa kehancuran dan kekacauan kehidupan bangsa di masa depan. Kekuatan sebuah bangsa adalah terletak pada bagaimana keadaan moralitas warga negaranya.
Share: