Mendidik Generasi Islam Yang cerdas, Pintar dan Taat Beragama

Selamat Datang, Welcome, Marhaban di Sekolah MTs AL-Fatah Hidayatullah Tarakan

Senin, 05 Desember 2016

Seputar tentang Moving Class

1. Pengertian Moving Class

Moving Class adalah salah satu sistem pembelajaran yang mana setiap guru mata pelajaran sudah siap mengajar di ruang kelas yang telah ditentukan sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya sehingga saat pergantian pelajaran bukan guru yang datang ke kelas siswa namun siswa datang ke kelas guru.  sistem moving class ini, seorang siswa dituntut untuk kreatif dalam belajar. Guru sudah tidak saatnya lagi memerintahkan siswa untuk belajar. Namun siswa harus belajar dengan kesadaran diri. sehingga siswa mampu menguasai konsep dengan sepenuhnya. maka siswa yang lebih berperan aktif dalam  menerima pelajaran dari guru. 

Moving Class merupakan belajar mengajar bercirikan siswa yang mendatangi guru di kelas bukan sebaliknya, terangnya sehingga terdapat penamaan kelas berdasarkan bidang studi misalnya kelas kompetensi matematika, kelas kompetensi  agama dan lain sebagainya.  Dengan sistem moving class yang dipadu dengan kelas terbuka atau open class, siswa akan lebih bergairah karena suasana belajar sesuai dengan bahan ajar. 

Moving Class adalah upaya untuk mendekatkan proses pembelajaran kepada proses ideal yang diinginkan harapannya dapat di realisasikan prinsip menyenangkan, dapat mengoptimalkan potensi dan bermanfaat dalam proses pembelajaran.  kelas kompetensi  di sini untuk memaksimalkan pengajaran dengan multimedia  yang ada. 

Pengertian lain moving class didefinisikan sebagai kelas khusus yang sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan kelas kompetensi  yang dikembangkan adalah kelas homogen dimana dalam kelas tersebut hanya ada peraga, peraga, media, penataan dan kondisi sesuai dengan kompetensi adalah tempat dan sumber belajar, laboratorium dan tempat bermain untuk melakukan proses pembelajaran. Model moving class siswa dapat melakukan proses pembelajaran secara integral ( menyeluruh) mencakup semua kemampuan  (religiusitas, kematangan emosional, kecerdasan intelektual dan ketrampilan hidup). 

2. Tujuan dan Manfaat dalam Moving Class  
a. Menciptakan sistem pembelajaran baru dalam pembelajarannya
Upaya menciptakan sistem pembelajaran baru dalam pembelajaran di antaranya pengajaran dapat diselenggarakan dengan jumlah siswa yang banyak di bawah bimbingan seorang guru. Prinsip-prinsip individualitas dalam pengajaran dapat diterapkan melalui tugas-tugas individualitas maupun kelompok, siswa terlibat aktif melakukan tugas-tugas dengan tidak terikat pada ruangan yang terbatas.

Sistem pembelajaran yang tidak terikat dalam satu kelas (moving class) diharapkan siswa lebih aktif dan mandiri melakukan aktifitasnya sendiri sehingga mendukung siswa lebih aktif dan mandiri, siswa dapat menyelesaikan tugas menurut kecakapan, minat dan perhatian. Sehingga siswa merasakan kenyamanan dalam pembelajaran. 

b. Terjadinya kerja sama antar siswa dalam kegiatan belajar
Waktu pergantian mata pelajaran siswa  harus berpindah dalam kelas yang berbeda sehingga dibutuhkan adanya kerja sama dalam kegiatan pembelajaran dan  kegiatan belajar bersama dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif, namun kemampuan untuk belajar melalui kegiatan kerjasama kelompok kecil akan memungkinkan siswa untuk menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan khusus. Dengan adanya pembelajaran tematik melalui moving class diharapkan siswa belajar berinteraksi dengan yang lain, sehingga terciptanya kerjasama yang sinergis.  

c. Memulihkan Motivasi Belajar Siswa
Sistem  moving class bagi siswa   tentunya secara psikologis akan selalu memperoleh suasana baru sehingga dapat mengurangi kebosanan di dalam kelas. Beberapa kelas siswa mengembangkan perasaan akrabnya terhadap teman kelas lainnya. Secara khusus peserta didik telah mengambil bagian dalam aktifitas belajar aktif.  Siswa dapat mengasumsikan peran seseorang yang pekerjaannya adalah yang sedang mereka pelajari. Siswa diberi kenyataan pada tugas-tugas pekerjaan dengan sedikit instruksi sebelumnya dan mempelajari dengan melakukan. Siswa diberi kesempatan untuk  meninggalkan ruangan kelas dan mencari latihan dari pekerja-pekerja yang dapat bertindak sebagai sumber bagi mereka dan kesemuanya itu dapat memotivasi belajar siswa dengan suasana yang baru.  Maka akan tercipta pembelajaran yang menyenangkan.  

d. Guru dapat mempersiapkan dan merencanakan materi secara baik
Keterkaitan guru terhadap program pembelajaran menjadikan guru terikat terhadap tujuan yang dirumuskan dalam program pembelajaran.  Dengan kesiapan guru dalam menyampaikan materi akan menjadikan proses belajar mengajar berjalan lancar.  

Share:

Ujian dan Penilaian Kelas

Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi. Jadi penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis kompetensi.

Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dapat dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur, teknik dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi yang akan dinilai. Oleh sebab itu, penilaian kelas lebih merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk memberikan keputusan, dalam hal ini nilai terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan tahapan belajarnya. Dari proses ini, diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tercantum dalam kurikulum.

Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti penilaian unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian produk, penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio), dan penilaian diri.

Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya, tetapi dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya.  Dengan demikian peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai apa yang diharapkan.

B.  Manfaat Penilaian Kelas
         Manfaat penilaian kelas antara lain sebagai berikut:
1.    Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi.
2.    Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial.
3.    Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan.
4.    Untuk masukan bagi guru guna merancang kegiatan pembelajaran.
5.    Untuk memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan.
6.    Untuk memberi umpan balik bagi pengambil kebijakan (Diknas Daerah) dalam mempertimbangkan konsep penilaian kelas.

C.  Fungsi Penilaian Kelas
Penilaian kelas memiliki fungsi sebagai berikut:
1.  Memberikan informasi sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi.
2.  Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan).
3.  Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu guru menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan.
4. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang    berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
5.  Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik.

D.  Rambu-rambu Penilaian Kelas
1.  Kriteria Penilaian Kelas

a. Validitas
Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. Dalam menyusun soal sebagai alat penilaian perlu memperhatikan kompetensi yang diukur, dan menggunakan bahasa yang tidak mengandung makna ganda. Misal, dalam pelajaran bahasa Indonesia, guru ingin menilai kompetensi berbicara. Bentuk penilaian valid jika menggunakan tes lisan. Jika menggunakan tes tertulis penilaian tidak valid.

b.  Reliabilitas
Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. Misalnya guru menilai suatu proyek, penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan proyek dan penskorannya harus jelas.

c.  Terfokus pada kompetensi
Dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berbasis kompetensi, penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan), bukan hanya pada penguasaan materi (pengetahuan).

d.  Keseluruhan/Komprehensif
Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik, sehingga tergambar profil  kompetensi peserta didik.

e.  Objektivitas
Penilaian harus dilaksanakan secara obyektif. Untuk itu, penilaian harus adil, terencana, berkesinambungan, dan menerapkan kriteria yang jelas dalam  pemberian  skor.


f.   Mendidik
Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik.

2.  Prinsip Penilaian Kelas
Dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya:
a.    Memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu, sehingga penilaian berjalan bersama-sama dengan proses pembelajaran.
b.    Mengembangkan tugas-tugas penilaian yang bermakna, terkait langsung dengan kehidupan nyata.
c.    Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri.
d.    Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pembelajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik.
e.    Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik.
f.     Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik.
g.    Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, proyek, dan pengamatan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran sehari-hari sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.
h.    Melakukan Penilaian kelas secara berkesinambungan terhadap semua Stándar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.
i.      Mengadakan ulangan harian bila sudah menyelesaikan satu atau beberapa indikator. Dengan demikian tidak perlu menunggu menyelesaikan 1 KD, karena ruang lingkupnya besar.  Pelaksanaan ulangan harian dapat dilakukan dengan penilaian tertulis, penilaian lisan, penilaian unjuk kerja, atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi atau kompetensi yang dinilai.  Ulangan tengah semester dilakukan bila telah menyelesaikan beberapa kompetensi dasar dipertengahan semester, sedangkan ulangan akhir semester dilakukan setelah menyelesaikan semua kompetensi dasar semester bersangkutan. Ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap dengan menilai semua kompetensi dasar semester ganjil dan genap, dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap. Guru menetapkan tingkat pencapaian kompetensi peserta didik berdasarkan hasil belajarnya pada kurun waktu tertentu (akhir semester atau akhir tahun).

Share: